

| NAME | Miko |
| PLACE OF BIRTH | Amasya, Turkey |
| DATE OF BIRTH | January 19, 1991 |
| POSITION | The Purrator |
Suara berisik yang berasal dari dapur membuat seekor kucing terbangun dari tidur panjang. Netranya menatap sekitar, memperhatikan tempat baru. Bahkan ia sedikit bingung dengan tubuhnya sendiri sebelum seseorang memanggil namanya.
️️
“Miko, kemarilah, Miko.” Tubuh kucing itu diangkat oleh kedua tangan ringkih Si Nenek. Ia mendesis melihat pantulan dirinya di depan cermin, “Hey, hey, tenanglah. Inilah dirimu yang baru, Miko.”
️️
Kucing itu jelas paham maksud Si Nenek namun yang keluar dari mulut bukanlah bahasa yang sama, melainkan satu ngeongan kecil yang membuat dirinya ikut terkejut dengan suaranya sendiri. Nenek hanya terkekeh mendengarnya dan mendudukkan Miko di atas kursi, “Baiklah. Aku akan mengajarimu bahasa Manusia agar kau bisa membantuku di masa depan.”
️️
Sejak hari itulah, Miko hidup tak hanya bersama Nenek, melainkan dengan seorang barista yang amat sangat menyukai kucing. Setiap hati, Miko diajarkan mengucapkan satu persatu bahasa manusia, ia juga sering mengintip Tuan Barista melakuka pekerjaannya di depan mesin. Terkadang tangannya refleks memegang suatu barang atau ingin melakukan sesuatu.
️️
“Hey, Miko. Ingin belajar hal baru?”
️️
Miko memiringkan kepalanya, “Apa-nyaw?”
️️
Tuan Barista menunjukkan secangkir kopi yang berwarna coklat kemudian menuangkan secukupnya foam berwarna putih. Bagaimana Miko bisa hafal hal itu? Tentu saja ingatan serta ketelitiannya membuat Miko bisa menghafal setiap dasar pengetahuan sebagai barista secara tidak langsung. Tuan Barista langsung menggambar sesuatu di sana; sepasang telinga dan mata, hidung kucing serta kumis kecil di sisi pipinya.
️️
“Nyaa! Apakah itu aku?”
️️
“Benar! Ini adalah dirimu, Miko! Mau mencoba belajar bersamaku?”
️️
Berkat keahlian serta kesabaran Tuan Barista, Miko menjadi satu-satunya kucing yang memahami tentang dunia kopi. Ia ahli dalam menggunakan mesin serta menggambar di atas latte. Kehadiran Miko menjadi daya tarik setiap orang untuk datang mengunjungi toko. Sayangnya, Tuan Barista mendadak mengundurkan diri karena tidak percaya diri lagi akibat orang-orang yang datang hanya menerima kopi jika Miko yang membuatnya. Tentu saja hal itu membuat Miko sedih dan kehilangan kawan satu-satunya.
️️
“Nenek, aku lelah jika bekerja sendiri nyaa.” Ujar Miko saat dirinya berada di atas pangkuan Si Nenek. Mengetahui kesulitan kucingnya, Nenek setuju. Toko ini hanya dijalankan oleh dua manusia, nenek sibuk membuat kue di belakang, Tuan Barista menjadi barista sekaligus kasir serta seekor kucing yang tenaganya terbatas.
️️
Nenek langsung mengusap bulu halus milik Miko, “Baiklah, aku akan mencarikan teman yang cocok untukmu ya, Miko. Jangan bersedih.”

| NAME | Marie |
| PLACE OF BIRTH | Neuilly-sur-Seine, France |
| DATE OF BIRTH | May 1, 1996 |
| POSITION | The Meowleen |
Tatkala cahaya keemasan menyinari sebuah kawasan megah di pinggiran kota Paris, kucing seputih salju itu terbangun karena sensasi beludru lembut, meregangkan tubuhnya saat menguap keluar dari mulut kecilnya. Di sana ia terbangun dengan hembusan angin AC yang lembut, aroma vanili, langit-langit emas yang tinggi, dan kehangatan selimutnya. Dalam keadaan setengah sadar, ada sesuatu yang tertinggal di benaknya—namun, di luar jangkauan ingatannya.
️️
Sebuah gambaran samar berkelebat di benaknya—seperti mimpi yang baru saja menjadi kenyataan tadi malam—sosok berjubah berdiri di bawah lampu jalan, matanya gelap dan kejam.
️️
"Kau menginginkan privilese," kata wanita tua itu di depan matanya. "Aku akan memberikannya kepadamu."
️️
Privilese? Untuk apa?
️️
Matanya membelalak, dan ingatan yang terfragmentasi itu lenyap saat kenyataan terjadi.
️️
Itu pasti mimpi.
️️
Ia mengamati sekeliling kamarnya yang mewah sekali lagi, membentangkan sulaman beludru dan sutra terbaik yang membungkus tempat tidurnya. Ikan salmon segar di mangkuk porselen dengan susu di sampingnya, dia tidak merasa bahwa dia membutuhkan lebih banyak keistimewaan dan privilese. Dia bukan tipe kucing yang akan mengemis dari seorang wanita tua sembarangan di jalanan. Dia sudah memiliki segalanya.
️️
Dia adalah kucing yang sangat beradab sehingga tidak seorang pun akan melihat privilese ini di perkebunan megah lainnya. Itu yang dia tahu.
️️
Kalung mutiara di lehernya, bantal bersulam yang diletakkan di mana pun dia duduk, dan hanya menyajikan makanan terbaik—salmon asap, foie gras yang dipanggang dengan sangat baik, teh jarum perak—semuanya disajikan dalam piring porselen. Dia adalah Marié, putri berbulu di perkebunan megah itu.
️️
Ke mana pun dia berjalan, dia disambut dengan kekaguman saat dunia membungkuk padanya.
️️
Itu benar-benar sempurna.
️️
Selama berbulan-bulan.
️️
Sampai si penyusup itu tiba.
️️
Kucing liar yang lebih muda, dirawat oleh keluarga yang telah menghujani Marié dengan semua kemewahan dan kasih sayang. Awalnya, hal itu tidak terlalu mengganggunya. Namun perlahan, semuanya mulai berubah—kehangatan, tawa, kegembiraan—sekarang menjadi milik orang lain. Kenikmatan yang tersisa, sesuatu telah dicuri darinya, dan itu adalah cinta yang tak terbagi.
️️
Kecemburuan menyelimuti kepalanya, menggelitik setiap indra kecil di sekitarnya. Hak istimewa tidaklah cukup. Ia perlu disayangi. Apa yang ia dapatkan saat ini bukanlah yang ia inginkan. Diabaikan, diasingkan, ditinggalkan.
️️
Dalam satu malam, tidak mampu lagi menghadapi segalanya, Marié melangkah keluar ke udara dingin. Rantai mutiara di lehernya tetap ada saat ia meninggalkan dunia yang pernah ia kagumi.
️️
Dan kemudian, ia bertemu dirinya. Lagi.
️️
Ternyata, wanita tua berjubah ini bukanlah halusinasi. Ia berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, tersenyum kejam.
️️
"Kau telah melihat kebenarannya, Nak," gumam wanita itu. "Privilese dan keistimewaan harta tidak ada artinya tanpa cinta. Apakah kau ingin dirimu disayangi dan dicintai sekali lagi?"
️️
Marié, dengan putus asa dan menggigil di lehernya, mengangkat dagunya. "Ya, aku ingin dicintai dan disayangi, tidak diabaikan dan diasingkan."
️️
Senyum berhasil tersungging di bibir wanita tua itu. "Untuk mendapatkannya, kau harus berusaha."
️️
"Kejarlah cintamu, gadis kecil," bisik penyihir itu sebelum menghilang ke langit yang gelap.
️️
Dalam hitungan detik setelah si tua itu menggerakkan tangannya, dunia di sekitar Marié berubah, hingga ia mendapati dirinya berada di sebuah toko roti, bersama celemek kecil yang membungkus tubuhnya. Hilang sudah bantal sutra, nampan perak, dan makanan ringan yang dulunya miliknya. Sebaliknya, semuanya digantikan oleh aroma roti panggang yang hangat. Cakarnya yang halus sekarang menjadi alat untuk bekerja.
️️
Marié menunggu. Ia bekerja, menguleni adonan dengan hati dan telapak tangan enggan, menunggu sang penyihir kembali dan memberikan cinta dari pemilik yang ia rindukan. Saat hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tanah megah tempat ia tinggal berubah menjadi mimpi yang jauh. Kehidupan mulia yang penuh cinta memudar menjadi sedotan imajinasi.
️️
Sang penyihir tak pernah kembali, beberapa orang berkata ia mengembara ke seluruh dunia—mungkin untuk menemukan korban mudah seperti dirinya untuk bekerja di toko roti ini.
️️
Maka, Marié tetap bekerja di toko roti, mulai menerima kenyataan bahwa ia telah kalah dalam kehidupan yang tak pernah ia pilih, tak menyadari bahwa kebenaran yang ia cari selalu berada dalam genggamannya. Ia mengejar privilese, namun yang benar-benar ia inginkan adalah cinta. Dan ia segera belajar bahwa cinta bukanlah sesuatu yang bisa diberikan, tetapi harus diperjuangkan dan ditumbuhkan.

| NAME | Sabuchiro Silahap |
| PLACE OF BIRTH | ? |
| DATE OF BIRTH | May 4, 2004 |
| POSITION | The Felineer |
Hari itu, jika tidak diselamatkan Tuan Tinggi, mungkin kucing hitam yang berada di belakang tong sampah bisa mati kapan saja. Ia sangat bersyukur bertemu dengan pria yang tinggi menjulang. Mungkin orang lain akan menganggapkan pria besar dengan suara yang menyeramkan, namun baginya tidak. Beberapa kali Tuan Tingggi meminta maaf karena suaranya yang kencang dan menggelegar. Tapi bagi Si Kucing, suara Tuan Tinggi selalu hangat dan panggilannya bagaikan ajakan makan bersama.
️️
Tuan Tinggi menyayangi kucingnya dengan sepenuh hati. Katanya, warna hitam legam itu sangat cantik. Wow! Anak kucing itu tidak menyangka dipuji karena warna hitam sebab merasa semua orang menghindarinya karena warna. Jika bukan karena Tuan Tinggi, mungkin dirinya masih menjadi kucing hitam tanpa kepercayaan diri.
️️
Selama sebulan hidup bersama Tuan Tinggi, wanita bulat itu terlihat menjauhi anak bulu tersebut. Wajahnya terlihat takut dan selalu siap melempar sandalnya jika Si Kucing berjalan ke hadapannya. Berkali-kali Tuan Tinggi memperkenalkan kelakuan lucu kucing hitam ini pada istrinya. Sayangnya, istri Tuan Tinggi menggeleng hari itu.
️️
“Nyonya! Nyonya! Aku bukan kucing pembawa sial walau warnaku hitam!”
️️
Ah, tapi dirinya hanyalah seekor kucing dari jalanan. Tentu Tuan Tinggi membawanya pergi dengan wajah sendu. Beberapa kali kepalanys menyundul dada Tuan TInggi agar dia terhibur. Sayangnya, Tuan Tinggi semakin menangis.
️️
"Nek, aku titip Si Lahap ya." Tuan Tinggi menatapnya tak tega, "Lahap, nanti kita bertemu lagi ya, Nak. Bapak titipkan kamu ke orang terpercaya."
️️
Oh ya, ucapan yang selalu diingat dari Tuan Tinggi sebelum seorang Nenek memeluk tubuh kecil kucing hitam. Terasa cukup sedih melihat kepergian Tuan Tinggi yang tidak menoleh sedikitpun kepadanya.
️️
"Jadi namamu Silahap? Apa artinya itu?" Nenek menatapnnya sambil tersenyum, "Bagaimana kita ubah namamu menjadi Sabuchiro?"
️️
Ia mengeong, “Tidak mau!”
️️
"Wah kau menyukainya ya? Sabuchiro Silahap."
️️
Sejak hari itu, namanya berganti menjadi Sabuchiro. Pertemuan dengan Tuan Tinggi yang merupakan warga Indonesia yang menamainya Si Lahap sebab nafsu makannya yang selalu bertambah dari hari ke hari. Sedangkan Nenek yang merawatnya sekarang adalah seorang penyihir dari Jepang dan tidak memahami makna "Si Lahap" mulai memanggilnya dengan panggilan baru sebagai Chiro. Insting seorang memang tidak pernah salah. Sejak kepindahannya bersama Nenek, Chiro selalu mendesis saat didekati baik itu oleh Miko ataupun Nenek. Siapa yang menyangka jika Nenek yang terlihat penyayang adalah seorang penyihir? Chiro menjadi kucing percobaan serta dipaksa bekerja untuk Nenek tersebut. Sering kali kucing hitam legam itu tidak menurut, membuat Nenek harus mencari kucing lain yang ternyata menjadi kawan bagi Chiro.Neuilly-sur-Seine, France

| NAME | Cleo |
| PLACE OF BIRTH | Salt Lake City, USA |
| DATE OF BIRTH | December 29, 2004 |
| POSITION | The Felineer |
Di sebuah rumah kecil, seekor kucing jingga duduk bersama kucing-kucing lain, mengunyah makanan kering yang sama seperti biasanya. “Lagi-lagi ini,” pikir si kucing jingga. Ia tetap makan karena perutnya perlu diisi, tapi dalam hati, ia merindukan sesuatu yang lebih. Setelah selesai, ia kembali ke tempat tidurnya dan menggulung tubuhnya di antara yang lain.
️️
Namun, siang itu, ada sesuatu yang berbeda. Ia mendengar suara pemilik rumah berbicara dengan seseorang. “Kalau kau mau beli, pilih saja yang mana. Semua sehat dan masih muda.” Si kucing jingga melirik ke arah pintu, seorang perempuan muda datang. Berbeda dari manusia yang lain, ia mengenakan pakaian serba hitam dan memiliki sesuatu yang aneh di lengannya—gambar-gambar yang melekat di kulitnya.
️️
Si kucing jingga menatapnya lama. Ada sesuatu yang menarik dari perempuan ini. Ia mendekat, menatap lengan perempuan itu dengan penuh rasa ingin tahu, lalu mengeong, “Miaw! Ini keren!” pikirnya, tanpa benar-benar tahu apa yang ia lihat. Perempuan itu tertawa kecil dan berjongkok, mengulurkan tangan untuk mengelusnya. Sang kucing langsung menggesekkan kepalanya ke tangan perempuan itu, lalu mulai berguling dan mengeong manja.
️️
“Bawa aku bersamamu.” begitulah yang ingin ia sampaikan.
️️
Tanpa butuh waktu lama, perempuan itu mengangkatnya dan membawanya pergi. Saat ia menoleh, ia melihat teman-temannya menatapnya dari dalam kandang. Mata mereka tampak sedih, tapi kucing jingga itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap mereka sekali lagi sebelum bersandar di bahu perempuan itu, meninggalkan tempat yang selama ini ia tinggali.
️️
Di rumah barunya, ia terkejut saat melihat makanan yang disajikan untuknya. Tidak lagi butiran kering yang hambar, tetapi sesuatu yang basah, lezat, dan harum.
️️
“Nyaw! Makanan seperti ini benar-benar ada?” tanpa ragu, ia langsung melahapnya. Perutnya kenyang luar biasa, dan ia pun melompat ke kasur empuk perempuan itu, lalu tidur pulas.
️️
Hari-harinya berjalan dengan nyaman. Makan, tidur, bermain, dan sesekali mengamati perempuan itu bekerja. Kadang, ia melihat perempuan itu duduk di meja, memegang benda berbunyi aneh yang bergerak-gerak di atas kulit seseorang. Ia tidak tahu apa yang perempuan itu lakukan, tapi setiap kali ia mendekat, perempuan itu tersenyum dan berkata, “Cleo, jangan ganggu.” begitulah akhirnya ia diberi nama—Cleo.
️️
Sebagai penghuni rumah ini, Cleo mulai bertingkah seperti raja. Ia hanya tidur di tempat paling empuk, menolak tidur di lantai, dan jika perempuan itu terlalu sibuk, ia akan menjatuhkan barang-barang hanya untuk menarik perhatian. Namun, kehidupan Cleo yang nyaman berubah ketika suatu hari ia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar tanpa sepengetahuan perempuan itu.
️️
Angin sore menerpa bulunya saat ia berjalan menyusuri jalanan. Hanya ingin melihat dunia luar, ia terus melangkah hingga akhirnya bertemu seorang nenek tua yang membawa sekantong kecil makanan. Aroma harum dari kantong itu langsung menarik perhatian Cleo.
️️
"Ini pasti makanan enak!"
️️
Tanpa ragu, ia menghampiri nenek itu dan mengeong lembut. Nenek itu menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Oh, kucing kecil yang manja… kau lapar?” Cleo menganggukkan kepala kecilnya dan mengeong lebih keras. Nenek itu mengeluarkan sepotong makanan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
️️
“Aku akan memberimu ini, tapi ada syaratnya.”
️️
Cleo mengedipkan mata. Ia lapar, sangat lapar. “Nyaw… terserah syaratnya apa, yang penting aku makan!” Ia mengeong setuju. Nenek itu tersenyum, lalu meletakkan makanan itu di hadapan Cleo. Dengan cepat, Cleo melahapnya sampai tak tersisa. Namun, saat ia sudah kenyang, barulah ia menyadari sesuatu—ia tidak tahu jalan pulang. “Meong… bagaimana ini?” Ia mengeong kepada nenek itu, meminta bantuan. Nenek itu menatapnya dan berkata, “Mulai besok, kau harus mulai bekerja.”
️️
Cleo mengerutkan dahi—sekalipun ia kucing, ia merasa bingung. “Meong? Bekerja? Apa maksudnya?” Ia hanya tahu makan, tidur, dan bermain. Namun, perlahan ia mulai memahami apa yang dimaksud nenek itu dengan 'bekerja'—dan petualangannya baru saja dimulai.

| NAME | Bei |
| PLACE OF BIRTH | Birmingham, United Kingdom |
| DATE OF BIRTH | October 8, 2004 |
| POSITION | The Felineer |
Sudah berhari-hari ia duduk sendiri di depan teras. Beberapa warga sekitar sering menawarinya tempat tinggal dan makanan namun kembali berakhir di rumah kosong sejak seminggu lalu. Polisi bahkan berniat untuk membawa kucing tersebut. Sayangnya, tidak ada yang bisa mengalahkan ketakutan Si Kucing.
️️
“Hey, Nak.” Panggil Nenek yang berada di depan pagar rumahnya. Ia mendongak, tatapannya terasa dingin dan enggan menanggapi. Namun bau kue lezat membuat perutnya keroncongan.
️️
Si Nenek mendekat, duduk di sampingnya tanpa berbicara sedikit pun. Matanya beberapa kali mencuri pandang pada kantong kertas yang dibawa oleh orang asing ini. Tiba-tiba saja ia merobek kue menjadi dua potongan, memperlihatkan isi tuna yang terlihat mengenyangkan. Walaupun ragu ia tetap mencoba untuk memakan irisan tuna di tengah roti.
️️
“Jadi kau ditinggal sendirian di sini?” Bei berhenti mengunyah. Mendadak ia mendesis dan menjauhi Si Nenek karena merasa akan diambil seperti orang lain yang datang padanya.
️️
“Aku pemilik rumah ini! Bei tidak akan meninggalkan keluarga!”
️️
ia sangat yakin jika keluarganya akan kembali suatu saat nanti. Bei terus mendesis hingga akhirnya Nenek itu pergi meninggalkannnya sendirian. Lagi.
️️
Namun tanpa ia sadari, Bei mulai membuka diri sebab kehadiran Nenek setiap hari. Ia mengingat jelas kapan Nenek akan berkunjung dan membuat ekornya naik, senang dengan eksistensi orang baru yang membawakannya makanan.
️️
“Besok aku tidak datang lagi ya.”
️️
“Apa? Kenapa?” Tatapan kucing calico itu membuat Si Nenek tersenyum.
️️
“Aku harus pindah, tidak bisa berlama-lama.”
️️
Bei menjatuhkan makanan yang dikunyahnya. Tubuh kucing kecil itu langsung mengitari Nenek, “Bawa aku! Bawa aku! Jangan tinggalkan aku sendirian!”
️️
Tentu saja Nenek itu tersenyum senang karena berhasil membawa kucing rapuh yang mudah ditipu. Bertambah satu pula karyawan yang menetap di toko rotinya.

| NAME | Milo |
| PLACE OF BIRTH | Sydney, Australia |
| DATE OF BIRTH | February 14, 2000 |
| POSITION | The Scrivara |
Malam itu dingin, kucing berwarna coklat itu ditelantarkan di tepi jalan oleh keluarga kaya yang ingin pindah rumah dikarenakan bangkrut yang melanda karena krisis ekonomi.
️️
“Adios… Maaf kami meninggalkanmu, kami sudah tidak punya apa-apa, jadi tidak bisa memberimu apa yang sudah kami beri selama ini.” Ucap sang majikan terhadapnya.“Miaw..”“Semoga nanti ada majikan baru yang bisa memberimu seperti layaknya kita memberimu ya, …”“Miaw…”Ia tidak ingat siapa namanya, hanya kata-kata perpisahan yang terekam oleh otak kecil Si Kucing.
️️
Satu minggu telah berlalu, kucing itu mulai terbiasa hidup di jalanan dan mengais tempat sampah untuk mengambil makanan. Namun tiba-tiba badan kurusnya terangkat.
️️ ️️
“RRAAWWNG”
️️
Ia melawan, kehidupan selama seminggu di luar rumah sangat tidak ramah. Tubuhnya ditendang, disiram, dan dipukul oleh orang-orang yang membenci kucing. Membuat dirinya cukup trauma, takut akan dijahati.
️️
“No no! Aku tidak jahat, lihat?”
️️ ️️
Ucap orang itu sembari mengelus bulu coklat yang sudah mekar karena ketakutan.
️️ ️️
Perlahan bulunya pun turun, pertanda bahwa tak takut lagi. Sang Kucing menurut saat dibawa ke suatu tempat untuk menemui seorang nenek-nenek.
️️
Mendadak tubuhnya menghangat di pelukan Nenek, dielusnya tubuh yang kurus ceking serta bulu yang sangat tidak beraturan itu.
️️
“Tidak apa bukan? Lihat dia, sangat kurus, entah kenapa kucing ras ini berada di tepi jalan. Mungkin karena krisis ekonomi yang melanda?”
️️
Sang nenek hanya menghela nafas, kemudian mengambilkan makan dan minum, serta memberi Si Kucing tempat nyaman untuk istirahat.
️️
“Besok kau bekerja ya, bersama teman barumu yang lain.” Ucapnya ketus sembari berbisik.
️️
“Jadi bisa saya titipkan kesini?”
️️
“Tentu saja.” Jawabannya terdengar ramah di telinga manusia.
️️
“Miaw…”
️️
“Warna kamu coklat, dipanggil Milo saja ya? Makanlah perlahan, sekarang ini rumahmu. Aku pergi dulu ya!”
️️
“Miaw… Ngrrrr”
️️
Sekarang Milo bersama dengan nenek yang ternyata penyihir itu, bersama kucing-kucing yang lain.

| NAME | Machi |
| PLACE OF BIRTH | Osaka, Japan |
| DATE OF BIRTH | February 20, 2000 |
| POSITION | The Tabulyn |
Aroma hangat bercampur manis melayang di udara, mengundang siapa pun yang melewatinya untuk berhenti sejenak. Tak jauh dari sana, terlihat seekor kucing berbulu cokelat cream, hidungnya bergerak mengendus wangi yang menggoda. Ekornya bergoyang penuh rasa ingin tahu.
️️
Kucing itu bernama Machi.
️️
Ia melangkah pelan, mengikuti jejak aroma itu hingga tiba di depan sebuah toko roti. Machi mengangkat dua kakinya depannya ke jendela, mencoba mengintip ke dalam. Machi mulai bertanya-tanya. Apakah ini toko roti yang hanya muncul di mimpi? Atau mungkin surga rahasia bagi para pecinta roti?
️️
Machi diam di ambang pintu. Saat seseorang membuka pintu untuk masuk, aroma di dalam menjadi lebih kuat dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, Machi menyelinap masuk di sela-sela kaki pria itu, melangkah cepat sebelum pintu tertutup kembali.
️️ ️️
Begitu masuk, matanya membesar.
️️
Di balik meja kasir, bukan manusia yang berdiri. Di dekat oven, bukan tangan manusia yang sibuk mengaduk adonan.
️️
Machi membeku di tempat.
️️
“Apa yang baru saja aku masuki?” pikirnya, sementara di depan matanya, para kucing itu bekerja layaknya manusia.














